Pendahuluan
Saat ini kita sedang dalam masa prapaskah, yang mengenang kembali bagaimana kesaksian Alkitab, mulai dari umat Israel di padang gurun, Musa di atas gunung, Elia dalam perjalan ke Horeb, pertobatan orang Niniwe setelah mendengar berita dari Yunus, dan Yesus yang berpuasa di padang gurun. Peristiwa-peristiwa tersebut akan menjadi lingkaran pastoral bagi orang percaya. Dalam lingkarang itulah Teks Yesaya 29 ini di tempatkan untuk memberi nuansa yang lebih dalam lagi untuk menghayati Masa Prapaskah.
Pemahaman Teks dan Konteks
Kita Yesaya adalah sebuah nubuatan dimana Allah akan menjatuhkan hukuman bagi Yehuda dan juga kebangkitan oleh seorang Mesias. Teks yang kita baca adalah bagian sebelum Yehuda dijatuhkan hukuman (pembuangan di Babel). Saat itu Yehuda menjadi bangsa yang serba aman dan nyaman, bahkan mereka jauh dari serangan bangsa-bangsa lain. Tidak hanya itu, mereka pun setia dalam beribadah, memberi korban persembahan di Bait Allah. Namun, karena situasi itu membuat mereka mengalami kebutaan iman. Mengapa? sebagaimana yang ditunjukkan dalam pasal 28 : 7 - 8, bahwa sekalipun aman dan mereka beribadah dalam Bait Allah, mereka tetap melakukan yang bercela kepada Tuhan. Mereka hidup menikmati kekayaan dan kemakmuran secara tidak bertanggungjawab karena mereka lupa bagaimana bangsa itu telah diperjuangkan oleh nenek moyang mereka melalui pertolongan Allah (28:16 — Batu yang teruji). Hidup mereka menjadi sangat materialis tanpa memikirkan mereka mengalami kemiskinan rohani, padahal dalam ritual mereka selalu mendengarkan Hukum Taurat dan juga kisah nenek moyang mereka yang berjuang sebagai bangsa pilihan Allah.
Pasal 29 : 1 - 8 adalah nubuat Yesaya yang mau menegaskan bahwa suatu saat bangsa Yehuda akan dikepung dan diserang oleh bangsa lawan (Babel), sehingga pada saat itu barulah Yehuda menyerukan nama Tuhan meminta pertolongan bukan ketika mendengar serangan saja, tetapi ketika kematian itu terlihat jelas di hadapan mereka. Ayat 4 menerangkan bahwa pada waktu itulah Yehuda menyadari bahwa iman mereka selama ini kosong, sehingga tempat mereka ada bersama orang mati. Jadi, istilah kematian itu bagi mereka yang mengalami kekosongan iman. Namun, di saat itu juga Allah menunjukkan keberpihakan kepada umatNya, dimana Allah akan membinasakan bangsa-bangsa yang melawan umatNya. Mengapa? 28:23-29 menjelaskan bahwa Allah tidak akan membinasakan (punah) tetapi cara yang Allah lakukan untuk menyucikan hidup mereka. Jadi, sebenarnya bukan soal fisiknya saja yang dihukum, tetapi mentalnya juga agar ibadah ritual mereka dibarengi dengan moral mereka yang baik.
Relevansi
Matius 7:21; “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”. Kutipan perkataan Yesus ini senada dengan peringatan Allah pada bangsa Yehuda saat itu. Pesan itu pun tetap relevan bagi kehidupan kita saat ini. Hari ini kita sudah menjadi persekutuan yang “mapan” (finansial, SDI dan juga sistem), namun sudahkah hidup kita sebagai orang percaya sudah menunjukkan ketaatan kita pada kehendak Tuhan? Saat ini kita bukan kekurangan informasi tentang kemahakuasaan Tuhan, tetapi kita kekurang motivasi untuk taat pada kemahakuasaan Tuhan. Kita sangat tahu siapakah Tuhan itu, tetapi kita melupakan apa yang dikehendaki Tuhan bagi hidup kita. Maka dari itu di Masa Prapaskah ini kita diperingatkan lagi untuk fokus pada kehendak Tuhan, baik atau buruk keadaannya. Kita harus menyediakan waktu untuk mendengarkan suara Tuhan melalui doa dan FirmanNya. Bahkan jadikanlah istri atau suami, anak-anak dan orang tua sebagai petunjuk Tuhan “mau seperti apa hidup kita”.
Comments
Post a Comment