Kemerdekaan Republik Indonesia
telah mencapai usia 73 tahun. Ketika menyaksikan Upacara Pengibaran Sang Merah
Putih di Istana Merdeka, yang dipimpin langsung oleh Presiden Ir. H. Joko
Widodo, ada rasa bangga sekaligus haru, karena bangsa ini merdeka melalui para
pejuang yang tangguh dan tak kenal lelah. Bahkan ketika seorang pilot pesawat
tempur TNI-AU mengucapkaan “Dirgahayu Republik Indonesia” langsung dari kokpit
yang mengudara di langit Istana Merdeka, membuat jiwa ini seakan terbang bersama
formasi pesawat tempur. Detak jantung yang berdebar karena rasa bangga pun tak
sanggup diungkapkan dengan kata-kata. “Kerja Kita, Prestasi Bangsa” adalah tema
yang diviralkan dalam rangka HUT Ke-73 NKRI, dan dalam keadaan yang penuh rasa
bangga, saya merenung dan bertanya dalam diri saya: “Aku harus bagaimana agar
aku berkarya dan berprestasi?” Ketika pertanyaan itu muncul, saya diperlengkapi
dengan Firman Tuhan yang saya baca dari Keluaran 32:1-14 (Bacaan Sabda Bina Umat
Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat tanggal 19 Agustus 2018).
Teks tersebut menunjukkan bahwa bangsa Israel sedang
mengalami kekosongan spiritualitas, karena menunggu Musa yang dirasa sangat
lama berada di atas gunung. Mereka tidak sedang menunggu di “warung kopi” atau
di “ruang tunggu” yang dilengkapi dengan wifi dan berbagai hiburan lainnya,
tetapi mereka sedang menunggu di padang gurun. Berbicara kekosongan spiritual berarti
termasuk di dalamnya kebingungan, keputusasaan, kegalauan dan ketakutan,
sehingga saat itu sangat dibutuhkan seorang yang mampu memberikan mereka
kepastian. Sayangnya, hanya Harun yang ada pada saat itu, Harun belum mampu mengisi
kekosongan spiritualitas dengan harapan berdasarkan kehendak Tuhan.
Ketidakmampuannya itu yang membuat Harun terpaksa bertindak “asal bapak senang”
dengan mengindahkan keinginan mayoritas untuk membuat allah ciptaan. Tuhan
melihat bahwa tindakan, antara pemimpin dan yang dipimpin, adalah kerusakan. Spiritualitas
mereka bukan lagi kosong, melainkan telah rusak. Di tengah amarah Tuhan yang
begitu besar, Musa tampil seperti obat penenang, sehingga Tuhan menyesali
rancangan malapetaka. Bukan berarti Tuhan memiliki rasa yang berubah-ubah,
melainkan Tuhan sedang membuat diriNya sendiri “tersakiti”. Tuhan mau tetap
setia pada perjanjianNya dengan nenek moyang bangsa Israel. Tuhan
berkehendak agar umatNya bebas dari perbudakan bukan hanya secara sosial-politis,
tetapi juga secara spiritualitas.
Kebebasan/kemerdekaan adalah setiap orang berdasarkan
kehendak Tuhan, dan di situlah bukti “mahalnya” kemerdekaan karena pemberian
dari Sang Khalik. Tuhan memakai setiap pribadi yang berjuang dengan penuh
integritas untuk kepentingan banyak orang. Seperti yang terjadi pada bangsa
ini, ada banyak orang yang mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya hanya
untuk merebut kemerdekaan pemberian dari Sang Khalik yang sempat diambil oleh
penjajah. 73 tahun sudah bangsa ini memproklamirkan kemerdekaannya (17 Agustus
2018), namun masih banyak yang digumuli untuk mempertahankan kemerdekaan
tersebut. Situasi bangsa Indonesia hari ini sedang dalam perhelatan Tahun
Politik, dimana isu tentang ulama dan generasi milenial menjadi diskusi bahkan
tidak jarang menjadi perdebatan antara dua kubu yang bersaing. Persaingan itu
seakan memecah-belah bangsa ini dengan istilah “Kampret dan Cebong”. Di situ
ada hinaan dan caci maki yang menunjukkan “rusaknya spiritualitas” dari
keduanya. Di dalam persaingan itu, tentu kita membutuhkan Musa yang sedang
berdialog dengan Tuhan untuk memohonkan pemulihan spiritualitas, bukan Harun
yang membuat spiritualitas semakin rusak. Maka, kita sangat membutuhkan
karakter yang berintegritas untuk mempertahankan kemerdekaan. Di tengah
pergumulan bangsa yang kompleks ini, janganlah kita saling menjatuhkan, tetapi
kita harus saling membangun, sama-sama berjuang untuk hidup sebagai orang yang
merdeka sesuai kehendak Tuhan. Isilah kekosongan spiritualitas kita dengan
ketaatan dan kesetiaan mendengar Firman Tuhan. Janganlah kita mengejar
kesenangan hanya untuk memuaskan keinginan manusiawi, tetapi mohonkanlah Hikmat
Tuhan bagi bangsa ini. Saya mengajak semua kita untuk setia berdialog dengan
Tuhan sehingga kita mampu menunjukkan integritas sebagai pribadi yang merdeka. Jadilah
pribadi berintegritas untuk menunjukkan prestasi kita bagi bangsa ini.

Comments
Post a Comment