Galau is a feeling about uncomfortable, confused and others. There is no much meanings about the word of "Galau", but in KBBI, Galau defined as a chaotic mind. Uneasy feelings and chaotic thoughts that caused by sad, dissapointing, or frightening situastions. Although in a soft quality bed, a person will not be able to sleep well, because of that uneasy feelings. All night he always thought about his situation. If it happens continously, then someone will going to be frustated. The circumstances was happened with the Prophet Jeremiah, when he chosen to tell God's Word to Judah which was in Babylon worked as a slave. As a Prophet, Jeremiah watched the suffering of his people, they seemed like a garbage thrown into mills to be destroyed. His feelings are written in the whole Book of Lamentations. In his uneasy feelings, he said: "Behold, O God, my fear is terrible, my soul is uneasy feelings; my heart turned with me, because it was too much, so I rebelled; outside my descent destroyed by the sword, in the house by pestilence." (Lamentations 1:20). I imagine, when he sat on the edge of the river (in Babylon, it usually used for wailing), he cried in his prayer to God. His voice was tired. Maybe he almost died from not eating and drinking for a few days. He sat not looks like in a cafe or cofffe shop while enjoying the soft sound of band vocalists who sing your favorite song. He went to the edge of the river, in a quite place, so he can meet God and told his uneasy feelings. I believe, when he walked to the edge of the river, his steps was so heavy.
Of course it's not only because the road is muddy and uphill, but also because the burden of his mind. Along the way, he thought about his suffering people, Judah. As he walked, his mouth muttered, seems like talking to someone else, part of his release. His heart was so frail, like a piece of paper that easy to ripped, and not easy to sewn. If his feelings are clothes, even the claw clothing merchants don't want to sell it, because it is more suitable for rag. Maybe, if it sell in online shop, the ad will be thrown into spam, because the content was not interesting and not feasible. His uneasy feelings that he revealed to God was not like a millenial generation who was writing an upset status on Instragram or making a video with the Tik Tok application with a backsound of the Syantik's Song trying to send a message to her boyfriend that she want to be spoiled. Jeremiah's expression didn't immediate by get some likes and comments like on Instragram and Tik Tok, but it tooked years.
God is not ignoring that moans but God is attracting His people one by one to return to the right path. "Behold, I have refined thee, but not with silver; I have chosen thee in the furnance of affliction." (Isaiah 48:10). God is "sewing" the cloth that has been torn due to sin. It takes a long time for the fabric to return to good condition. Thus the Lord listened to Jeremiah's moans and He always understood the condition of His people. God is preparing the time and place for His people, so that they can enjoy peace without uneasy feelings. God using the uneasy feelings of His people to awaken them and return to a pure relationship with God. When Jeremiah was "Galau" (fear, confusion, sadness), God too was GALAU - God Always Listening And Understanding. God doesn't leave His people to fend for themselves, but God is testing our loyalty and obedience to come to Him, not with Instagram status and Tik Tok videos, but with our pure and true prayers and worship to always be with God.
Galau adalah bentuk perasaan yang kurang nyaman, bingung gelisah dan sebagainya. Tidak banyak pengertian tentang kata "galau", namun dalam KBBI galau didefinisikan sebagai pikiran yang kacau balau. Perasaan yang gelisah dan pikiran yang kacau balau diakibatkan oleh situasi yang menyedihkan, mengecewakan, ataupun menakutkan. Walaupun di tempat tidur yang empuk, seseorang tidak akan bisa tidur dengan nyenyak karena kegalauannya.Sepanjang malam ia terus berpikir tentang keadaannya. Jika hal itu terjadi secara terus-menerus, maka seseorang akan mengalami frustasi. Keadaan itu dialami oleh Nabi Yeremia saat ia dipilih untuk menyampaikan perkataan Alllah kepada bangsa Israel yang berada di Babel sebagai budak. Sebagai Nabi, ia menyaksikan penderitaan bangsanya, mereka seperti sampah yang dilemparkan ke dalam penggilingan untuk dihancurkan. Perasaannya itu ditulis dalam seluruh Kitab Ratapan. Dalam kegalauannya ia berkata: "Ya, Tuhan, lihatlah, betapa besar ketakutanku, betapa gelisah jiwaku; hatiku terbolak-balik di dalam dadaku, karena sudah melampaui batas aku memberontak; di luar keturunanku dibinasakan oleh pedang, di dalam rumah oleh penyakit sampar." (Ratapan 1:20). Saya membayangkan, ketika ia duduk di pinggir sungai (di Babel biasa digunakan untuk meratap) ia menangis di dalam doanya kepada Tuhan. Suaranya terdengar lelah. Mungkin ia hampir mati karena tidak makan dan minum berhari-hari. Dia duduk bukan seperti di Cafe/warkop sambil menikmati suara lembut dari vokalis band, yang menyanyikan lagu kesukaanmu. Dia pergi ke tepi sungai, di tempat yang sepi, agar ia berjumpa dengan Allah dan menceritakan kegalauannya. Saya yakin, ketika ia berjalan menuju tepi sungai, langkahnya sangat berat. Tentu bukan hanya karena jalannya berlumpur dan menanjak, melainkan karena beban pikirannya. Sepanjang jalan ia terus berpikir tentang bangsanya yang menderita. Sambil melangkah, mulutnya pun komat-kamit seakan-akan sedang berbicara dengan seseorang. Padahal ia sedang mengungkapkan beban pikirannya, dan tidak jelas kepada siapa dia harus melampiaskannya. Hatinya sangat rapuh, bagaikan selembar kertas yang sangat mudah dirobek, dan tidak mudah untuk dijahit. Jika perasaannya itu bagaikan baju, pedagang pakaian cakar (bekas) pun tidak mau menjual, karena lebih layak dijadikan untuk kain lap. Mungkin kalau dijual di online shop, iklannya akan dimasukkan ke spam karena kontennya tidak menarik dan tidak layak. Perkataan yang dia ungkapkan kepada Tuhan bukan seperti anak milenial yang sedang menulis status galau di instagram atau membuat video dengan aplikasi tik tok dengan backsound lagu "syantik" yang mengirimkan pesan kepada pacarnya kalau ia ingin dimanja. Perasaan Yeremia tidak langsung mendapat like dan coment seperti di IG dan tik tok, tetapi butuh waktu bertahun-tahun.
Tuhan bukan tidak mendengar rintihan itu, tetapi Tuhan sedang menarik umat-Nya satu per satu untuk kembali ke jalan yang benar, Yesaya 48:10-"sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan." Tuhan sedang "menjahit" ulang kain yang sudah robek akibat dosa umat-Nya. Butuh waktu yang lama agar kain itu kembali dalam keadaan yang baik. Demikianlah Tuhan mendengarkan rintihan Yeremia dan Ia selalu mengerti keadaan umat-Nya. Tuhan sedang mempersiapkan waktu dan tempat bagi umat-Nya, agar mereka dapat hidup dengan tenang tanpa galau. Tuhan memakai kegalauan umat-Nya untuk menyadarkan mereka dan kembali dalam hubungan yang murni dengan Allah. Ketika Yeremia Galau (takut, bingung, sedih) Allah pun G A L A U -- GOD ALWAYS LISTENING AND UNDERSTANDING. Allah tidak meninggalkan umat-Nya berjuang sendiri, tetapi Allah sedang menguji kesetiaan dan ketaatan kita untuk datang kepada-Nya, tentu bukan dengan status IG atau tik tok, melainkan dengan doa dan ibadah kita yang murni dan sejati agar selalu dekat dengan Allah.
Galau adalah bentuk perasaan yang kurang nyaman, bingung gelisah dan sebagainya. Tidak banyak pengertian tentang kata "galau", namun dalam KBBI galau didefinisikan sebagai pikiran yang kacau balau. Perasaan yang gelisah dan pikiran yang kacau balau diakibatkan oleh situasi yang menyedihkan, mengecewakan, ataupun menakutkan. Walaupun di tempat tidur yang empuk, seseorang tidak akan bisa tidur dengan nyenyak karena kegalauannya.Sepanjang malam ia terus berpikir tentang keadaannya. Jika hal itu terjadi secara terus-menerus, maka seseorang akan mengalami frustasi. Keadaan itu dialami oleh Nabi Yeremia saat ia dipilih untuk menyampaikan perkataan Alllah kepada bangsa Israel yang berada di Babel sebagai budak. Sebagai Nabi, ia menyaksikan penderitaan bangsanya, mereka seperti sampah yang dilemparkan ke dalam penggilingan untuk dihancurkan. Perasaannya itu ditulis dalam seluruh Kitab Ratapan. Dalam kegalauannya ia berkata: "Ya, Tuhan, lihatlah, betapa besar ketakutanku, betapa gelisah jiwaku; hatiku terbolak-balik di dalam dadaku, karena sudah melampaui batas aku memberontak; di luar keturunanku dibinasakan oleh pedang, di dalam rumah oleh penyakit sampar." (Ratapan 1:20). Saya membayangkan, ketika ia duduk di pinggir sungai (di Babel biasa digunakan untuk meratap) ia menangis di dalam doanya kepada Tuhan. Suaranya terdengar lelah. Mungkin ia hampir mati karena tidak makan dan minum berhari-hari. Dia duduk bukan seperti di Cafe/warkop sambil menikmati suara lembut dari vokalis band, yang menyanyikan lagu kesukaanmu. Dia pergi ke tepi sungai, di tempat yang sepi, agar ia berjumpa dengan Allah dan menceritakan kegalauannya. Saya yakin, ketika ia berjalan menuju tepi sungai, langkahnya sangat berat. Tentu bukan hanya karena jalannya berlumpur dan menanjak, melainkan karena beban pikirannya. Sepanjang jalan ia terus berpikir tentang bangsanya yang menderita. Sambil melangkah, mulutnya pun komat-kamit seakan-akan sedang berbicara dengan seseorang. Padahal ia sedang mengungkapkan beban pikirannya, dan tidak jelas kepada siapa dia harus melampiaskannya. Hatinya sangat rapuh, bagaikan selembar kertas yang sangat mudah dirobek, dan tidak mudah untuk dijahit. Jika perasaannya itu bagaikan baju, pedagang pakaian cakar (bekas) pun tidak mau menjual, karena lebih layak dijadikan untuk kain lap. Mungkin kalau dijual di online shop, iklannya akan dimasukkan ke spam karena kontennya tidak menarik dan tidak layak. Perkataan yang dia ungkapkan kepada Tuhan bukan seperti anak milenial yang sedang menulis status galau di instagram atau membuat video dengan aplikasi tik tok dengan backsound lagu "syantik" yang mengirimkan pesan kepada pacarnya kalau ia ingin dimanja. Perasaan Yeremia tidak langsung mendapat like dan coment seperti di IG dan tik tok, tetapi butuh waktu bertahun-tahun.
Tuhan bukan tidak mendengar rintihan itu, tetapi Tuhan sedang menarik umat-Nya satu per satu untuk kembali ke jalan yang benar, Yesaya 48:10-"sesungguhnya, Aku telah memurnikan engkau, namun bukan seperti perak, tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan." Tuhan sedang "menjahit" ulang kain yang sudah robek akibat dosa umat-Nya. Butuh waktu yang lama agar kain itu kembali dalam keadaan yang baik. Demikianlah Tuhan mendengarkan rintihan Yeremia dan Ia selalu mengerti keadaan umat-Nya. Tuhan sedang mempersiapkan waktu dan tempat bagi umat-Nya, agar mereka dapat hidup dengan tenang tanpa galau. Tuhan memakai kegalauan umat-Nya untuk menyadarkan mereka dan kembali dalam hubungan yang murni dengan Allah. Ketika Yeremia Galau (takut, bingung, sedih) Allah pun G A L A U -- GOD ALWAYS LISTENING AND UNDERSTANDING. Allah tidak meninggalkan umat-Nya berjuang sendiri, tetapi Allah sedang menguji kesetiaan dan ketaatan kita untuk datang kepada-Nya, tentu bukan dengan status IG atau tik tok, melainkan dengan doa dan ibadah kita yang murni dan sejati agar selalu dekat dengan Allah.
Comments
Post a Comment