Kisah Para Rasul 2 : 1 – 13
Banyak gereja yang kurang
mementingkan Hari Pentakosta, tidak jelas apa alasannya, namun yang pasti Hari Pentakosta tidak seperti saat Natal dan Paskah yang harus membentuk kepanitiaan untuk merayakan dan memeriahkan. Seperti biasanya, umat datang beribadah di Hari Minggu demikianlah Hari Pentakosta dilewati. Tidak ada yang spesial, hanya kebanyakan umat memakai baju merah agar mecing dengan kain mimbar / stola. Jika demikian, kita sendiri yang telah melupakan asal
usul kita.
Ingatkah kita pada kisah lidah api yang turun di atas kepala para murid ? Pada saat itu para murid dan umat Yanudi dari berbagai daerah sedang berkumpul untuk merayakan Hari Pentakosta, perayaan itu sangat penting bagi
mereka, sebab di situ mereka mengingat kembali setelah mereka keluar dari Mesir, mereka menerima 10 Hukum Taurat di Gunung Sinai dan
itu terjadi hari kelima puluh. Tidak hanya itu, pada hari Pentakosta sedang
terjadi panen besar, sehingga pada hari itu Allah memerintahkan agar umatNya
merayakannya dengan semarak dan besar-besaran (Imamat 23:15-21). Pada hari yang
penting itu juga, Allah mengaruniakan Roh Kudus dalan bentuk lidah api.
Saat itu
sedang berkumpul orang-orang dari berbagai daerah (ayat 10), dan para murid
berbicara dengan mamakai bahasa yang dipakai di masing-masing daerah. Inilah
yang disebut dengan Xenolalia yang bersifat temporer (hanya pada saat itu),
artinya berbagai bahasa, berbeda dengan Glosolalia yang artinya Bahasa Roh,
yang hanya dimengerti oleh Allah. Ini yang kemudian biasa diklaim oleh beberapa
gereja tentang bahasa Roh, sering kita mendengar orang seakan-akan berbahasa
roh yang tidak dapat kita mengerti. Itu bukanlah bahasa Roh, karena tidak dapat
dimengerti. Bahasa Roh adalah berbagai bahasa yang jika didengar seperti bahasa
yang dipakai di masing-masing tempat.
Roh Kudus,
menggerakkan para murid untuk bersabda tentang Kristus. Banya orang tercengang,
seolah-seolah tidak percaya, tetapi dengan curahan Roh Kudus banyak orang
menjadi percaya dan menerima Kristus dalam hidup mereka. Namun, di tengah
situasi itu ada juga orang yang menolak, mengatakan bahwa para murid sedang
mabuk. Dalam pengunjilan mereka, tentu ada orang-orang yang tidak dapat
menerima, karena tidak memahami arti dari curahan Roh Kudus. Namun, Roh Kudus
sudah dicurahkan dan memberikan keberanian kepada Petrus dan kawan-kawannya
untuk bersaksi. Setelah peristiwa itu, kita menyaksikan bahwa 3000 orang
bertobat (2:14-40). Ini bukti bahwa Roh Kudus itu membuat yang tidak berdaya
menjadi kuat, dan yang takut menjadi berani.
Di tengah situasi yang penuh
dengan tekanan, ketakutan dan kecemasan karena persoalan hidup, kita sangat
membutuhkan kehadiran Roh Kudus. Hari ini kita merayakan Hari Curahan Roh
Kudus, yang seharusnya menguatkan dan meyakinkan kita untuk tetap berani, kuat,
dan optimis dalam menghadapi hari-hari kehidupan kita. Peristiwa ini adalah
hari yang penting bagi gereja, sebab inilah awal gereja dihadirkan. Tugas untuk
menyelamatkan dunia bukan lagi tugas tunggal dari Allah Bapa dalam PL, Yesus
dalam PB (Kitab Injil), tetapi sudah menjadi tugas gereja memberi kesaksian
tentang keselamatan Allah. Tentu, dengan hadirnya Roh Kudus gereja dimampukan.
Saya teringat ketika saya sedang on duty sebagai vikaris (calon pendeta loohh itu) saya ditugaskan membaca buku yang berjudul "Berdiri di Ambang Batas" karya John Mansford Prior. Di buku itu ditulis kehadiran gereja (Katolik) pada tahun 30-an di Tanah Papua, persisnya di Kabupaten Asgat, yang penghuninya bersuku Asmat. Pada tahun itu Dunia Suku Asmat dicabik-cabik oleh para konglomerat perkayuan dan pertambangan (taulah kita Papua menyimpan kekayaan sumber daya alam yang menggiurkan bagi kapitalis). Namun disitu budaya jeur wayir menjadi cara gereja untuk mendampingi anak-anak Asmat. jeur adalah rumah jangkungan tempat berkumpul dan wayir adalah tempat duduk di muka perapian untuk mengambil keputusan berdasarkan ilahm roh. Api adalah tempat Roh bermukim sekaligus tempat pengampunan. Orang yang berbicara di depan api harus mendengarkan roh dan jiwa rakyat sebagai wakil dari setiap keluarga. Setelah itu mereka memgambil keputusan untuk dikerjakan dalam damai, persatuan dan keselarasan dan melahirkan sikap adil, arif dan mengampuni. Di sinilah simbol Gereja yang mendengarkan, yang terbuka dan rendah hati. Itulah yang saya bayangkan terjadi pada peristiwa Pentakosta, bahwa api sebagai simbol hadirnya Roh Kudus telah mengilhamkan perdamaian, persatuan dan keselarasan sehingga gereja terbentuk dan diutus untuk menjangkau setiap insan di dunia ini.
Maka kita pun dipertanyakan; ketika Roh Kudus
dihadirkan bagi kita, sudahkah kita menjadi saksi yang baik? Seorang ayah akan
menjadi saksi yang baik bagi keluarga jika ia terus dikuasai dengan Roh Kudus.
Begitu juga dengan istri, hanya Roh Kudus yang bisa menjadikannya seorang saksi
yang baik bagi rumah tangganya. Namun, roh lain lebih digemari daripada Roh
Kudus, makanya masih banyak keluarga Kristen yang tidak menjadi saksi yang
baik. Seorang suami yang harusnya lembut kepada istri, giat dalam bekerja,
wibawa di luar rumah. Namun, yang terjadi kebalikannya, wibawa di depan istri
lembut dalam bekerja, dan giat di luar rumah. Seorang istri juga seharusnya
mesra bersama suami, hemat di dapur, anggun di luar rumah. Tetapi yang terjadi,
hemat bersama suami, anggun di dapur, mesra di luar rumah.
Jadikanlah
peristiwa penting ini untuk mengingatkan kita untuk terus bertindak sebagai
gerejaNya yang bersaksi. Mulai dari keluarga, jadikanlah mereka tempat kita
bersaksi, tempat kita berdamai, dan saling mengampuni. Dalam bersaksi kita mengasihi, mencintai mereka, mendekap mereka
dengan kehangatan bukan dengan kehematan. Makan bersama dengan mereka dengan
tawa bukan dengan keluhan. Marilah dengan yakin kita tapaki hari-hari kita
dengan kuasa Roh Kudus yang menguatkan agar kasih Tuhan menjangkau semua orang.
Hari Puasa Ke-5
Hari Puasa Ke-5
Comments
Post a Comment