Skip to main content

Allah Mencari karena Menghormati


 Hasil gambar untuk gambar Allah sedang merendah
Pendahuluan
                Rasa iri hati “bersahabat” dengan dengki, sehingga ketika seseorang memiliki rasa iri, maka kedengkiannya pun selalu timbul melalui tindakan yang tidak bermoral. Iri hati merusak moralitas dan membuat martabat manusia tidak ada harganya, baik bagi dirinya sendiri, maupun orang lain. Rasa iri itu sebenarnya muncul dari rasa takut, yakni takut kalah karena tidak menerima kekurangannya sendiri.
Allah Menghormati Manusia
                Allah menciptakan langit, bumi dan segala isinya dengan FirmanNya. Ketika Firman keluar dari Allah, di situlah sejarah dimulai. Apa yang diciptakan Allah, semua itu dipandang BAIK, karena Allah sendiri yang hadir di dalam sejarah. Allah datang dalam sejarah dengan RASA HORMAT yang tinggi terhadap sejarah. Yohanes 1:9-10 “Terang yang sesungguhnya yang menerangi tiap manusia telah datang ke dalam dunia. Dia berada di dalam dunia, dan dunia telah dijadikan melalui Dia, akan tetapi dunia tidak mengenalNya”. Mengapa Allah yang datang di dalam sejarah tidak dikenal oleh sejarah? Karena Allah datang di dalam sejarah, tetapi tidak menangani sejarah; Allah tidak sewenang-wenang mengatur sejarah karena Allah mau datang di dalam sejarah dengan sikap yang penuh hormat.
                Kejadian 3 menceritakan tentang jatuhnya manusia ke dalam dosa, dan ketika manusia itu berdosa Allah datang dengan kalimat “Dimanakah engkau?” (ayat 9). Pertanyaan itu penuh hormat kepada sejarah. Ketika pertanyaan itu diajukan Allah, maka Allah memutuskan untuk membatasi diriNya dengan manusia di dalam sejarah. Lebih dari itu, pertanyaan itu ingin mencari manusia untuk melakukan perjanjian dengan kesetiaan. Artinya di situlah tanda Allah berinisiatif untuk setia pada perjanjianNya dengan manusia (ciptaan yang dipandang BAIK).
Yeremia 1:10 “Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam”. Kutipan ini menunjukkan bahwa Allah yang berkuasa dan sangat kuat diperkenalkan kepada sejarah oleh Yeremia yang masih sangat muda dan “tidak pandai berbicara” (ayat 6). Keadaan Yeremia yang lemah (tidak sempurna) secara manusiawi dipakai Allah untuk memperkenalkan diriNya (Nubuat Pemulihan) yang sangat sempurna dan berkuasa. Jadi, buat Allah tidak ada yang perlu dikhawatirkan akan ketidaksempurnaan, karena Allah pun menghormatinya.
Kejatuhan manusia dalam dosa membuka babak baru, dimana hubungan manusia yang tanpa salah terhadap Allah dan sesamanya yang dilambangkan dengan “ketelanjangan merek” telah dirusakkan. Dan dalam keadaan itu Allah datang dalam rasa hormatNya dengan pertanyaan; “DIMANAKAH ENGKAU?”. Kejadian 3:14-19; manusia diadili, tetapi ditolong dan dihormati. Rok atau celana yang terbuat dari daun diganti dengan pakaian dari kulit binatang adalah bentuk perhatian dari Allah dan Allah menolong manusia untuk dapat terbiasa dengan keadaan yang baru.

Manusia Kurang/Tidak Menghormati Ciptaan Allah
                Banyak orang hanya berhenti melihat kasus ini ketika Allah berkenan kepada persembahan Habel saja, tidak kepada persembahan Kain. Berkaitan dengan persembahan, Kain memberikan “sebagian” sedangkan Habel memberikan yang “sulung”. Kata “sebagian” sering dimaknai secara kuantitas atau biasanya menyisakan, yakni sisa dari apa yang dihasilkan, (bertentangan dengan menyisihkan), sehingga bukan yang utama. Oleh karena itu, Kain dipahami sebagai orang yang membersembahkan korban dari sisa penghasilannya. Berbeda dengan Habel, dia mempersembahkan yang utama (sulung) dari penghasilannya.

            Perlu dipahami bahwa Tuhan belum pernah memerintahkan ibadah penyembahan dengan api, tapi Kain dan Habel mungkin mengetahui kisah Kejadian di Eden dari orang tuanya. Kemungkinan Kain mempersembahkan hasil tanah, agar menghapus kutuk Tuhan atas tanahnya (memohon berkat secara materil). Tapi Habel mempersembahkan domba menggantikan domba yang dibunuh Allah dan diambil kulitnya untuk baju Adam dan Hawa dulu (pakaian dari daun diganti dengan pakaian dari kulit binatang). Tuhan membedakan pekerjaan mereka agar Allah bisa menyatakan korban yang dikehendakiNya (membedakan bukan untuk menimbang – ringan atau berat – tetapi memberikan identitas). Tetapi, saat pemberiannya ditolak, Kain bukan bertobat dan mencari maksud Allah, malah iri dan membunuh Habel.

Tuhan bukan tidak adil dan pilih kasih, tapi mengindahkan hati lebih dari korban. Allah tidak  minta korban, tidak perlu berterima kasih atas pemberian apapun. Habel merendahkan diri untuk bersyukur atas kebaikan Allah kepada kesalahan ayah-ibunya dan pertolongan dari Allah, tetapi Kain tinggi hati dan mau diberkati, lalu kecewa/marah saat direndahkan Allah. Habel diindahkan/dikasihani sebab ia minta belas kasihanNya saat dibuang. Tapi Kain tidak mencari belas kasihan Tuhan, ia terbukti tidak takut Allah. Hati Kain tidak takut Allah, tujuan hatinya asing, dan Allah tidak merasa dikenali.
Setelah terjadi pembunuhann yang mengerikan oleh Kain terhadap Habel, Allah datang dengan pertanyaan: “Dimanakah, Habel, saudaramu itu?” (pertanyaan penuh hormat). Pertanyaan itu lebih dari sekedar menujukkan tempat, tetapi bermakna; “bagaimanakah dengan dia/Habel?”, “Apakah saudaramu, Habel, menikmati Sálóm di dalam lingkungan hidupnmya?” (Sálóm berasal dari bahasa Akkadia, Sálάmu,  yang berarti lengkap, tidak terkena luka). Pertanyaan itu penuh perhatian dan penuh rasa hormat, tetapi jawaban Kain merusak secara radikal sikap hormat tersebut. Ungkapan Kain merupakan ekspresi yang sadar akan keadaannya yang sangat menyedihkan (4:14). Perasaan yang tidak aman, yang menakutkan, secara jasmaniah (terhalau dari bumi) dan secara teologis (tersembunyi dari hadapan Tuhan). Kain menjadi orang yang paling tidak terlindungi di muka bumi, tetapi Firman Tuhan kepadanya datang dengan sikap yang sama (penuh perhatian dan hormat), “Sekali-kali Tidak!” (4:15).

Refleksi
                Kisah ini mau menunjukkan bagaimana Allah yang selalu rindu, mau setia, dan menghormati ciptaanNya. Allah saja membatasi diriNya untuk memberi rasa hormatNya kepada manusia/kita, masa sih kita tidak. Allah saja yang Maha Kuasa membatasi diriNya, masa sih manusia tidak menerima keterbatasannya. Allah membatasi diri dengan rasa hormatNya untuk menunjukkan bahwa Ia selalu hadir bagi manusia yang terbatas. Hal itu Dia wujudkan melalui kehadiran Yesus Kristus. Allah yang tinggi, sekarang sejajar dengan manusia agar manusia melihat bagaimana caranya hidup dengan sikap yang menghormati Allah dan ciptaanNya. Jadi, tidak perlu punya rasa takut kalah sehingga menimbulkan iri hati. Terbatas bukanlah aib atau hal yang memalukan sehingga harus iri dengan orang-orang yang memiliki kelebihan, tetapi bagi Tuhan terbatas itu adalah terhormat. Tuhan berpihak kepada keterbatasan manusia, dan kita selalu melihat keterbatasan itu dengan syukur, bukan dengan iri dan dengki dengan membanding-bandingkan keadaan kita dengan orang lain. Padahal di tengah keadaan kita, Tuhan selalu hadir.

Comments

Popular posts from this blog

GALAU - God Always Listening And Understanding

Galau is a feeling about uncomfortable, confused and others. There is no much meanings about the word of "Galau", but in KBBI, Galau defined as a chaotic mind. Uneasy feelings and chaotic thoughts that caused by sad, dissapointing, or frightening situastions. Although in a soft quality bed, a person will not be able to sleep well, because of that uneasy feelings. All night he always thought about his situation. If it happens continously, then someone will going to be frustated. The circumstances was happened with the Prophet Jeremiah, when he chosen to tell God's Word to Judah which was in Babylon worked as a slave. As a Prophet, Jeremiah watched the suffering of his people, they seemed like a garbage thrown into mills to be destroyed. His feelings are written in the whole Book of Lamentations. In his uneasy feelings, he said: " Behold, O God, my fear is terrible, my soul is uneasy feelings; my heart turned with me, because it was too much, so I rebelled; outside my...

YANG TERLUPAKAN DI ANTARA KITA

Terinspirasi dar buku karya A. Sonny Keraf berjudul “Krisis dan Bencana Lingkungan Hidup Global”   Ketika sampai pada ujung jalan. Sebuah sungai memancar indah mengalirkan beberapa dedaunan yang mungkin tanpa sengaja terjatuh dari dahanya. Disana aku belajar bagaimana sebuah rantai keindahan alam berjalan mengikuti irama kehidupan. Semua terasa indah memang. Bukit itu secara tersirat menggambarkan sebuah tangga yang harus ku capai demi mendukung keindahan mimpi sebelumnya. Berpaling berikutnya adalah sebuah puncak tertinggi, membuatku terus berpikir bahwa mimpi itu berada disana. Dapatkah aku meraihnya, hanya sebuah langkah yang dapat membuktikanya. Menjadi yang hijau melihat sebuah hutan di antara dua bukit itu. Di sebelahnya terdapat lahan gersang yang sebelumnya adalah hutan. Hutan yang seharusnya tumbuh lebat. Namun, siapa sangka, ia tak bisa mencapai impianya untuk menjadi bintang dalam pemandangan laneskap itu. “Manusia memang angkuh dan egois, mimpiku dihancurkan h...

Integritas untuk Prestasi Bangsa

Kemerdekaan Republik Indonesia telah mencapai usia 73 tahun. Ketika menyaksikan Upacara Pengibaran Sang Merah Putih di Istana Merdeka, yang dipimpin langsung oleh Presiden Ir. H. Joko Widodo, ada rasa bangga sekaligus haru, karena bangsa ini merdeka melalui para pejuang yang tangguh dan tak kenal lelah. Bahkan ketika seorang pilot pesawat tempur TNI-AU mengucapkaan “Dirgahayu Republik Indonesia” langsung dari kokpit yang mengudara di langit Istana Merdeka, membuat jiwa ini seakan terbang bersama formasi pesawat tempur. Detak jantung yang berdebar karena rasa bangga pun tak sanggup diungkapkan dengan kata-kata. “Kerja Kita, Prestasi Bangsa” adalah tema yang diviralkan dalam rangka HUT Ke-73 NKRI, dan dalam keadaan yang penuh rasa bangga, saya merenung dan bertanya dalam diri saya: “Aku harus bagaimana agar aku berkarya dan berprestasi?” Ketika pertanyaan itu muncul, saya diperlengkapi dengan Firman Tuhan yang saya baca dari Keluaran 32:1-14 (Bacaan Sabda Bina Umat Gereja Protestan di...